Dua profesor antropologi dari universitas berbeda, Prof Mudjahirin Thohir dan dan Prof Tjetjep Rohendi berkolaborasi menafsirkan karakter terkini budaya pesisir. Keduanya, bersama dalang Ki Enthus Susmono, menjadi pembicara dalam Seminar Karakter dan Perilaku Budaya Masyarakat Jawa Pesisir Lor pada Selasa (18/7) lalu.

Prof Mudjahirin, yang dikenal karena pemikirannya dalam multikulturalisme, menyampaikan bahwa karakter masyarakat Pesisir Lor dipengaruhi oleh sistem nilai yang dibentuk oleh empat sumber.

Empat sumber kebenaran itu, menurutnya, adalah kebenaran konstitutif, kognitif, normatif, dan ekspresif. Empat tipe kebenaran itulah yang menjadi pola dasar perilaku budaya masyarakat, termasuk masyarakat Pesisir Lor. Namun, karena kondisi alam yang khas, kebudayaan Pesisir Lor berkembang dengan keunikan tertentu.

Menurutnya, salah satu keunikan karakteristik tersebut adalah dinamika yang tinggi. Kondisi tersebut terjadi karena pesisir bersifat terbuka, baik dalam arti fisik maupun kultural. Secara fisik, wilayah pesisir terbuka karena berhadapan dengan laut. Adapun secara kultural, keterbukaan pesisir terjadi karena penerimaan terhadap produk kultural luar.

Sementara itu, profesor antropologi seni Tjetjep Rohendi berpendapat, muncul aneka kekhasan dalam ekspresi seni masyarakat Pesisir  Lor. Dalam seni gerak, misalnya, ada kecenderungan masyarakat pesisir lebih agresif dibandingkan masyarakat pedalaman. Kekhasan juga muncul dalam produk seni yang lain.

Lebih jauh, profesor yang terkenal berkat risetnya tentang ekspresi seni masyarakat miskin ini berpendapat,  pendidikan seni memiliki potensi sosial yang besar. Salah satu fungsinya adalah digunakan untuk memupuk toleransi. Bahkan pada tingkat tertentu, pendidikan seni di pesisir lor juga dapat digunakan untuk melawan dogma.

Ki Enthus Susmono yang hadir sebagai konstituen kebudayaan Pesisir Lor menolak stigma terhadap kebudayaan Pesisir Lor. Mengenai bahasa, misalnya, Ki Enthus mengakui bahwa masyarakat Pesisir Lor lebih asertif. Namun kondisi itu tidak berarti bahasa Pantura kasar. Ia justru melihat ada aneka nilai positif di balik keasertifan itu, seperti egaliterianisme, kesetiakawanan, dan kejujuran.

Leave a Comment

Blue Captcha Image
Refresh

*