Pada Masa Pandemi, Pendidik Dituntut Adaptif

Posted By : Dhoni Zustiyantoro

Pusat Kajian Literasi Universitas Negeri Semarang menyelenggarakan webinar “Literasi pada Masa Pandemi”, Kamis (18 Juni 2020). Ketua Pusat Kajian Literasi UNNES, Dr. Zulfa Sakhiyya, menyatakan webinar ini merupakan bentuk kepedulian dan pengabdian nyata untuk para pelaku pendidikan, khususnya guru dan dosen, yang harus beradaptasi terhadap perubahan cepat karena pandemi Covid-19.

Saat membuka webinar, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni UNNES, Dr. Sri Rejeki Urip, M.Hum, menyampaikan bahwa pandemi global dan pergeseran ke new normal ini mensyaratkan seluruh elemen penyelenggara pendidikan untuk siap menerapkan transformasi pendidikan baik dengan konsep pembelajaran blended learning, daring ataupun luring.

Diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai wilayah melalui platform Zoom dan Youtube, webinar ini dilaksanakan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Webinar menjadi media untuk membangun pemahaman bersama yang lebih baik tentang literasi pada masa pandemi. 

Narasumber webinar adalah Dr. Roberto de Roock (National Institute of Education, Singapore) dengan keahlian di bidang literasi digital dan equity, Dr. Sofie Dewayani (Ketua Satgas Gerakan Literasi Sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) dengan keahlian di bidang literasi dan multimodalitas, dan Dr. Pratiwi Retnaningdyah (Universitas Negeri Surabaya) dengan keahlian di bidang literasi dan pembentukan karakter.

Dr. Roberto de Roock menyampaikan bahwa literasi digital pada masa krisis perlu memperhatikan dan mempertimbangkan sumber literasi yang ada dan kekayaan budaya masyarakat, serta berfokus pada literasi yang relevan, berguna dan menarik.

Sedangkan, Dr. Sofie Dewayani melalui pemaparan tentang “Multimodality in Literacy During the Pandemic: Refocusing on the Essentials” menekankan pentingnya penggunaaan teks multimodal untuk siswa karena teks tersebut relevan dengan apa yang dialami oleh siswa dalam keseharian dan mudah diakses pada masa pandemi ini.

Dia menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi siswa sekarang ini tidak hanya tentang pembelajaran digital jarak jauh yang lebih didominasi dengan pemberian tugas, tapi mereka juga mengalami masalah sosial ekonomi seperti kerawanan pangan, layanan kesehatan, layanan disabilitas, dan tidak meratanya akses teknologi dan internet di daerah terpencil. 

Untuk itu, guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran kontekstual yang didasarkan pada kebutuhan dan tingkat kompetensi siswa di daerah masing-masing.

Dr. Pratiwi Retnaningdyah menghubungkan literasi dengan isu yang lebih besar, yakni pembentukan karakter. Ia menjelaskan bahwa karya sastra menyimpan nilai dan pelajaran mengenai keberanian, kasih sayang, empati, kerja sama, tanggung jawab, dan kegigihan, yang kesemuanya merupakan fondasi, dari karakter. Membaca karya sastra tidak hanya mengasah otak, tetapi juga hati, sehingga mengajarkan karakter tanpa menggurui.

Ketiga narasumber menekankan pentingnya mendekati literasi sebagai praktik sosial yang kreatif, bukan sekedar kegiatan membaca dan menulis yang terpisah dari realitas sosial. Dengan berpegang pada pentingnya literasi sebagai praktik sosial yang menjadi inti dari Kajian Literasi Baru, Pusat Kajian Literasi terus mencoba merespons permasalahan literasi secara khusus dan permasalahan pendidikan di Indonesia pada umumnya.

Penyelenggaraan webinar ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas guru dalam mengoptimalkan pengelolaan literasi dan dalam membudayakan literasi di sekolah masing-masing sehingga pada akhirnya literasi mampu menjadi penggerak masyarakat dalam menghadapi tantangan sosial dan global.

Tantangan pendidikan di masa pandemi tidak boleh memadamkan semangat untuk terus mengusahakan tidak hanya pendidikan formal jarak jauh tapi juga literasi. Namun, dalam prosesnya, sebagai garda depan penyelenggaraan pendidikan dan agen kampanye literasi, guru perlu terus mendapat dukungan.(*)

Leave A Comment