Permasalahan PJJ Bahasa Jawa Beragam

Posted By : Dhoni Zustiyantoro

Permasalahan terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) semakin beragam, tidak terkecuali untuk pelajaran Bahasa Jawa. Untuk itu, guru mesti mengidentifikasi permasalahan tersebut sebagai bekal meningkatkan kualitas pembelajaran di era pandemi Covid-19.

Demikian mengemuka dalam webinar “Pembelajaran Bahasa Jawa di Era Pandemi: Tantangan dan peluang” yang diselenggarakan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (30/7). Webinar yang diikuti 200-an guru itu terselenggara atas kerja sama Unnes dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa SMP dan SMA Kabupaten Kudus.

Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Jawa Unnes, Mujimin mengatakan, terkait akses pembelajaran, penting bagi guru untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami oleh peserta didik. Ketika pandemi, permasalahan itu terutama terkait dengan akses supaya materi yang disampaikan bisa diterima dan dipahami dengan baik oleh siswa. Oleh sebab itu, antar-siswa bisa memiliki masalah berbeda.

Siswa yang tinggal di perkotaan bisa jadi memiliki permasalahan yang berbeda dengan mereka yang tinggal di perdesaan. Hal itu terkait dengan kepemilikan sarana seperti telepon genggam atau laptop juga konektivitas ke jaringan internet. Mujimin menyatakan, kondisi ekonomi dan geografis yang beragam membuat tidak semua siswa bisa mengikuti pembelajaran melalui internet. Di sejumlah daerah, guru bahkan memanfaatkan radio dan pesan singkat (SMS) untuk memberikan materi dan soal.

Hadir pula sebagai pembicara, Mundakir (Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Kabupaten Kudus), Eko Purnomo (Ketua MGMP Bahasa Jawa SMP Kabupaten Kudus), dan Andicha Octaffianto (staf Teknologi, Informasi, dan Komunikasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah). Diskusi dimoderatori oleh Ucik Fuadhiyah, Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes.

Menurut Andicha Octaffianto, tantangan bagi guru di masa pandemi semakin bertambah kompleks. Tantangan tersebut antara lain terkait dengan ketimpangan teknologi antara sekolah di kota besar dan daerah, keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, dan keterbatasan sumberdaya untuk pemanfaatan teknologi pendidikan.

Selain itu, tantangan yang juga muncul adalah relasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam pembelajaran daring yang belum integral. Kunci dari pembelajaran daring adalah konten yang dibuat oleh guru. “Buat pembelajaran dengan menyenangkan dan tidak mudah membuat stres. Antar-guru pun bisa saling meminjam media pembelajaran,” ujarnya.

Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, Dr Prembayun Miji Lestari menyatakan, pihaknya terus mengupayakan peningkatan kompetensi bagi guru. Menurut rencana, akan digelar pelatihan lanjutan. “Bagi MGMP yang ingin menjalin kerja sama, dapat menghubungi kami,” kata Prembayun.(*)

Leave A Comment