Ekosistem Seni Mesti Didesain Ulang

Posted By : Dhoni Zustiyantoro

Selama masa pandemi, ekosistem seni harus didesain ulang sebagai sesuatu yang terintegrasi penuh ke platform digital, bukan hanya distribusi, tetapi juga produksi dan pelatihannya. Selain itu, konsep pendidikan seni berbasis kelas dan tatap muka ke pendidikan seni berbasis jaringan interaksi digital antar-pelaku dan antar-institusi juga mesti segera diupayakan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid PhD, ketika menjadi narasumber dalam Webinar Kebudayaan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes) menuturkan, kini pasar seni melesu karena tidak ada orang berani investasi lukisan, menonton konser dan pemutaran film, dan lain-lain, sehingga kerja magang yang biasanya dilakukan mahasiswa seni menjadi lenyap.

Sebagian besar cabang seni, seperti seni pertunjukan, tari, film, dan musik, mensyaratkan kontak fisik atau setidaknya kedekatan fisik. Program studi seni mesti mengubah orientasinya akibat Covid-19,” ujar Hilmar Farid dalam webinar bertema “Fenomena dan Tantangan Bahasa dan Seni Pascapandemi” itu.

Webinar dimoderatori oleh Plt Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Dr Hendi Pratama. Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman hadir sebagai pembicara kunci dalam webinar yang diikuti oleh peserta dari berbagai lembaga dan perguruan tinggi tersebut.

Hilmar menyatakan pihaknya telah meluncurkan survei pendataan tenaga budaya yang terdampak secara ekonomi oleh Covid-19. Tercatat 38.011 tenaga budaya terdampak, di mana 83,37 persen di antaranya tidak memiliki pekerjaan selain bidang kesenian dan 80,08 persen pekerja cagar budaya dan permuseuman tidak memiliki pekerjaan selain bidang tersebut. “Kami sedang memproses bantuan untuk 28.000 tenaga budaya paling terdampak,” kata Hilmar dalam webinar yang diikuti 200-an peserta itu.

Pembicara lain, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Prof Endang Aminudin Aziz PhD, menyoroti fenomena berbahasa pada masa pandemi. Bentuk bahasa bisa sangat mungkin berubah, akan tetapi fungsinya tetap. Selain berisi informasi aktual, tidak jarang, pengguna bahasa juga banyak berkelakar, bergurau tentang wabah Covid-19, bahkan membuat dan menyebarkan hoaks.

“Bagaimana bahasa bisa menjadi upaya solusi di tengah pandemi? Mari kita gunakan bahasa yang berisi pesan positif, bukan berisi kabar bohong apalagi menghasut, lebih menentramkan, bukan meresahkan, lebih memberi harapan, bukan menimbulkan keputus-asaan,” ujarnya.

Prof Fathur Rokhman mengatakan, bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan resiprokal. Perubahan bahasa menstimulasi perubahan kebudayaan. Adapun perubahan kebudayaan akan menstimulasi perubahan bahasa.

Dekan FBS Unnes Dr Sri Rejeki Urip menyatakan, kebijakan pembatasan sosial telah mengubah semua tatanan mapan yang menempatkan manusia pada zona nyaman. Bahasa dan seni yang selama ini diandalkan menjadi pilar budaya komunal menghadapi tantangan tersendiri ketika harus berhadapan dengan kebijakan pembatasan sosial tersebut.(*)

Leave A Comment