Kolaborasi Riset Jadi Keniscayaan

Posted By : Dhoni Zustiyantoro

Dosen di perguruan tinggi semakin dituntut  untuk dapat melakukan riset secara kolaboratif. Jarak dan batas-batas teritorial kini semestinya bukan lagi menjadi persoalan. Selain itu, kolaborasi diharapkan mampu menghasilkan riset yang memecahkan persoalan global.

Research Fellow Islamic University Malaysia, Mohamad Zain Musa menuturkan, wabah Covid-19 telah memisahkan jarak antar-manusia. Namun demikian, upaya untuk berbagi dan berkolaborasi dalam hal riset dan ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti. “Silaturahmi ilmu bisa terus dikekalkan, salah satunya melalui internet,” ujarnya dalam webinar “Kerja Sama Kolaborasi Riset Antarbangsa Berbasis Bahasa, Budaya, dan Kearifan Lokal” oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Jumat (28/8).

Dalam penelitiannya “Warisan Sastra Bertulis Batu Cam”, Mohamad Zaim menyebutkan warisan tersebut memiliki dua khazanah, yaitu dokumen tertulis dan lisan atau cerita rakyat. Wilayah Champa sekitar tahun 1100 SM terletak di sepanjang pantai Vietnam. Kedua jenis khazanah ini merupakan khazanah yang tak ternilai bagi rakyat Campa.

Usaha memelihara dan memahami isi kandungan khazanah ini harus dilakukan dengan kerja sama semua pihak, bagi kepentingan budaya, bahasa, dan satra Melayu. ”Bagi saya khazanah ini bukan lagi khazanah bangsa cama tetapi merupakan khazanah Melayu,” ujarnya.

Pembicara lain yang juga Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes, Dr Prembayun Miji Lestari, menyebut ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk kolaborasi riset, antara lain melalui penulisan dan penerbitan karya ilmiah bersama. Karya tersebut bisa diterbitkan ke dalam jurnal, book chapter, monograf, kamus, dan lainnya.

Selain itu, melalui identifikasi dan dokumentasi potensi bahasa, sastra, budaya, dan kearifan lokal, juga pertukaran dosen dan mahasiswa. Pada akhirnya, kolaborasi menjadi wujud eksistensi keilmuan dan praktiknya, baik bagi dosen, mahasiswa, maupun swasta.

Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta, Dr Kundharu Saddono, meneliti khutbah salat Jumat di sejumlah kota di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei. Dari hasil penelitiannya, khotbah di Indonesia memiliki tema yang relatif lebih bebas. Di negara luar, tema khotbah Jumat telah ditentukan oleh lembaga negara.

Selain itu, di sejumlah negara lain, khotbah disampaikan juga dengan bantuan salindia (slideshow) sehingga dinilai dapat membantu para jamaah dalam memahami apa yang disampaikan oleh khatib.

Dekan FBS Unnes Dr Sri Rejeki Urip menuturkan, kebersamaan menjadi kunci dalam memperluas kerja sama antarlembaga dalam melakukan riset. Lembaga pendidikan tinggi besar bukan hanya karena mengandalkan ketokohan seseorang (one man show), namun mesti didorong bersama-sama.

Leave A Comment