Sastra Jawa Didorong Merespons Zaman

Karya sastra Jawa perlu didorong agar lebih merespons perkembangan zaman. Tema yang dihadirkan diupayakan agar lebih dekat dengan generasi muda dan tidak semata-mata menyuguhkan tema masa lampau dengan bahasa yang cenderung berjarak dan sulit dipahami.

Demikian mengemuka di dalam Seminar Kontribusi lan Posisi Sastra Jawa ing Zaman Generasi Milenial, di Dekanat Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Selasa (2/4/2019). Seminar yang diselenggarakan oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Unnes itu menghadirkan pembicara sastrawan asal Jawa Timur Bonari Nabonenar, guru bahasa Jawa yang juga pengarang Rini Tri Puspohardini, guru dan aktivis sastra Jefrianto, dan dosen Unnes yang juga Ketua Organisasi Pengarang Sastra Jawa, Dr Sucipto Hadi Purnomo.

Menurut Sucipto, mesti diakui jika saat ini sastra Jawa telah bergeser fungsinya. Penciptaan karya bukan tidak ada, tapi kualitas dan pembacanya kian menurun. Selain itu, menurut dia, orientasi pengarang yang menciptakan karya sastra seakan mengabaikan realitas zaman dan dunia yang berkembang.

Hal itu, misalnya, nampak dari ungkapan pengarang yang masih terlalu arkais. Padahal, sastra adalah gambaran kehidupan sehari-hari yang bisa diciptakan bahkan melalui ugkapan sehari-hari. Itu tercermin, misalnya, dari syair-syair lagu dangdut berbahasa Jawa yang belakangan ini menjadi tren. Itu menjadi salah satu upaya agar sastra Jawa perlu diupayakan menjadi milik siapa saja, ujarnya, dalam diskusi yang dimoderatori oleh dosen Prodi Sastra Jawa Unnes Dhoni Zustiyantoro itu.

Diperbincangkan

Menurut Bonari, dalam perkembangannya, kekhawatiran akan musnahnya sastra Jawa juga memberi dampak positif. Sebab, dengan demikian, geliat bersastra akan terus diperbincangkan, baik dari sisi pengarang, pembaca, maupun mutunya. Bonari juga mengatakan, bukan tidak mungkin suatu saat karya sastra Jawa akan lebih eksis melalui bahasa Indonesia. Karya sastra berbahasa Indonesia, namun dengan tema terkait Jawa, bisa menjadi alternatif pengembangan sastra Jawa.

Jefrianto mengatakan, untuk meningkatkan minat baca siswa, sekolah perlu memperbarui bahan bacaan di perpustakaan. Tanpa adanya banyak bahan bacaan, semangat mengajarkan sastra hanya akan berhenti pada jargon semata. Meski kini teknologi informasi sudah menjadi sarana penyebaran, namun cara konvensional berupa buku dan majalah tetap menjadi sarana utama. Misalnya jika kita meminta siswa untuk membuka web agar membaca karya sastra, mereka malah tidak akan membukanya karena lebih tertarik pada?game, ujarnya.

Rini berpendapat, guru perlu didorong menulis sastra anak karena merekalah yang paham perkembangan anak. Saat ini, genre sastra Jawa untuk anak sangat jarang ditemui. Padahal, itu sangat bermanfaat bagi perkembangan mental dan psikologi anak.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *