Dukung Visi Internasionalisasi UNNES, FBS Gelar Konferensi Internasional

CECLACE atauConference on the Environmental Conservation through Language, Arts, Culture and Education merupakan program Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) untuk mempercepat target internasionalisasi Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Dengan tema “Preserving Environtmen trough Innovation in Language, Arts, Culture, and Education”, konferensi yang digelar Jumat (19 Juli 2019) di Hotel Grand Candi, Semarang, ini berisipembahasanterkait budaya, seni, bahasa, dan pendidikan yang dikombinasikan dengan konservasi.

“Konferensi ini menjadi ajang berkumpul para cendekiawan,” ujar Dr. Hendi Pratama, Ketua Panitia CECLACE 2019 yang juga Wakil Dekan I Bidang Akademik FBS UNNES.

Konferensi ini mendatangkan pembicara dari dalam dan luar negeri. Mereka ialah Prof. Sudharto P Hadi(Universitas Diponegoro, Semarang), Asso. Prof. Liao Yi-Yao(Chung Yuan Christian University, Taiwan), dan Asso. Prof. Tarmizi (Universiti Kelantan, Malaysia). Rektor UNNES Prof. Fathur Rokhman menjadi pembicara kunci dalam konferensi yang diikuti puluhan peserta ini.

Salah satu tujuan konferensi ialah meningkatkan kualitas keilmuan dosen UNNESsehingga diharapkan karya-karya mereka dapat diaksesdan diaplikasikan di seluruh dunia.

Dalam paparannya, Hendi menyampaikankepemimpinanmerupakan hal penting. Di UNNES, menumbuhkan kepemimpinan bisa dilakukan dengan cara menumbuhkan kesadaran bagi staf, dosen, dan lainnya bahwa mereka mempunyai potensi kepemimpinan dari dalam diri mereka.

Prof. Sudharto memaparkan berbagaitradisi yang dilakukan masyarakat di daerah pedalaman sesuai arahan leluhurmereka. Tradisi tersebut secara tidak langsung membantu merawat lingkungan yang selaras dengan pembangunan berkelanjutan.

Di Taiwan, Asso. Prof. Liao Yi-Yao menggunakan university social responsibility programsebagai media untuk membuat bahan ajar belajar bahasa, menggunakan brandingberupa media digital untuk instruksinya memodel ulang rumah, juga membangun komunitas cinta alam. Keduanya bisa menjadi contoh bahwa seorang pemimpin harus memulai dengan mempunyai visi yang besar. (Zulfia Haryanti/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *