CECLACE 2019, Peserta Konferensi Paparkan Hasil Penelitian

Peserta konferensi yang menjadi pemakalah dalam Conference on the Environmental Conservation through Language, Arts, Culture, and Education (CECLACE) yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS UNNES), memaparkan hasil penelitian mereka dalam konferensi yang digelar Jumat (19 Juli 2019) di Hotel Grand Candi, Semarang.

Hasil-hasil penelitian tersebut didorong untuk menjadi masukan bagi masyarakat dan pemangku kebijakan. Penelitian tentang sastra, misalnya, bertujuan memotret realitas masyarakat yang tergambarkan melalui karya sastra. Hal itu di satu sisi bisa menjadi pembelajaran dan referensi dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dyah Prabaningrum, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES, dalam penelitian berjudul “The Meaning of Life in Sawitri dan Tujuh Pohon Kelahiran Novel: Psychology of Literature Study”menemukan fakta bahwa dalam novel tersebut berisi pemaparan kehidupan yang bermakna danberorientasi realistik.

Hal itu dapat dicontohkan dalam bentuk penggunaaan potensi diri dengan sebaik-baiknya. Menurut Dyah, apa pun hasil yang dicapai agar tidak mengecewakan dengan cara menghilangkan penyesalan dan senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena memang itulah potensi yang dimiliki diri sendiri.

Adapun dalam penelitian “Conversational Implicature In Transactions in Traditional Markets in Yogyakarta”, Nike Widya Kusumastuti, dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNNES, menemukanbahwa semua hal yang terjadi di masyarakatselalumemiliki pembaharuan.

Nike menuturkan, apa yang terjadi di lapangan tidak sesuai hipotesis, namun di belakang makna pasti ada maksud tertentu. Menurut Nike, temuannya bisa diaplikasikan ke masyarakat dalam kegiatan jual-beli, yaitu memanfaatkan alih kodedan campur kodeuntuk menyarankan pembeli dengan cara tanpa menggurui. Dengan begitu, komunikasi antara penjual dan pembeli akan terjaga dengan baik tanpa adanya sakit hati.

ListiHanifah, peserta konferensi lainnya, melakukan penelitian terhadap tradisi panggihdan krobongan, sebuah bagian dalam upacara adat pernikahan masyarakat Jawa. Akan tetapi, oleh sebagian masyarakat, tradisi itu kerap digabung menjadi satu dengan mengambil nama panggih saja. Hal itu tidak menjadi masalah dalam kalangan masyarakat demi menghargai perbedaan tradisi.

“Tiap prosesisebenarnya juga ada perbedaan peragaan-peragaan dari benda-benda adat, atribut yang digunakan, dan jalan yang dilakukan. Tapi, inti dari semua itu hanya satu, yaitu mengarah pada Gusti Allah,” kata Listi Hanifah menyimpulkan penelitiannya yang berjudul “Lexical and Cultural Meaning of terms in Panggih Ceremony of Javanese Traditional Wedding Gagrag Surakarta”.

CECLACE 2019 diikuti oleh dosen dan mahasiswa dari dalam dan dalam negeri. Satu hal yang menjadi pokok penting dalam konferensi ini adalah bagaimana kita diajak menempatkan diri sebaik-baiknya di lingkungan danmasyarakatuntuk melakukan sesuatu yang benar di hadapan Tuhan. Seperti yang dicontohkan salah satu pembicara, Asso. Prof. Liao Yi-Yao dari Chung Yuan Christian University, Taiwan. Ia menyatakan bahwa dengan membangun komunitas cinta alam, manusia akan terhubung dengan Tuhan.(Zulfia Haryanti/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *