Menulis di Jurnal Internasional Itu Keniscayaan

Kewajiban bagi dosen untuk mampu menghasilkan karya akademik yang diterbitkan pada jurnal bereputasi internasional adalah keniscayaan. Jika tidak, dosen akan menerima sejumlah sanksi.

Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fathur Rokhman mengungkapkan, dosen yang hanya menyesalkan kebijakan yang telah berjalan itu akan tertinggal dan berdampak pada lembaganya. Jurnal bereputasi internasional menjadi tolok ukur dalam penilaian kinerja akademik dosen sekaligus reputasi pendidikan tinggi. Menulis jurnal ilmiah itu keniscayaan yang harus kita jalani, ujar Fathur ketika menjadi pembicara dalam diskusi Kebijakan Unnes 2019, di kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, Selasa (15/1).

Hadir dalam kesempatan itu, antara lain, Wakil Rektor I Bidang Akademik Zaenuri, Wakil Rektor II Bidang Umum dan Administrasi S Martono, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Abdurrahman, dan Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan dan Kerja Sama Agus Nuryatin.

Pada 2017, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti) Mohamad Nasir menerbitkan?peraturan yang mengharuskan adanya tulisan ilmiah dari setiap dosen untuk mendapatkan tunjangan profesi dosen dan tunjangan kehormatan guru besar. Peraturan ini membuat gugup banyak dosen di berbagai perguruan tinggi yang belum terbiasa menulis di jurnal ilmiah internasional dengan reputasi tinggi. Namun, seiring perkembangan, aturan ini mesti dilihat sebagai peluang untuk bersanding dan bersaing dengan perguruan tinggi kelas dunia.

Fathur mengungkapkan, pada 2019, Unnes menargetkan sebanyak 750 artikel terindeks Scopus. Hal itu menjadi salah satu pendorong kampus ini menjadi perguruan tinggi Klaster I Kemenristek dan Dikti dan Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Scopus merupakan salah satu pusat data yang dimiliki penerbit terkemuka. Jurnal yang terindeks di Scopus adalah jurnal yang telah bereputasi internasional.

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni M Jazuli menuturkan, fakultasnya mendapat jatah sebanyak 133 artikel terindeks Scopus pada tahun ini. Jazuli menekankan bahwa menulis jurnal ilmiah bukan hal baru bagi dosen dan telah menjadi bagian dari kewajiban tri darma perguruan tinggi. Untuk itu, kualitas penelitian dan tulisan akademik mesti terus ditingkatkan.

Wakil Dekan I Bidang Akademik FBS Hendi Pratama menuturkan, dengan capaian sebanyak itu, nyaris setiap dosen di fakultasnya mesti menerbitkan satu artikel artikel di jurnal internasional terindeks Scopus. Untuk mencapai target tersebut, awal tahun ini pihaknya telah merancang pelatihan intensif bagi seluruh dosen. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *