EnglishIndonesian

Dorong Kemajuan Ilmu lewat Akulturasi Budaya

Dhoni Zustiyantoro
10 bulan yang lalu

Kemajuan ilmu pengetahuan yang memberikan dampak positif bagi kehidupan manusia dapat didorong melalui akulturasi budaya. Berbagai keunggulan yang mampu diciptakan manusia diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan global yang mengabaikan sekat geografis dan budaya.

Demikian mengemuka dalam konferensi internasional yang diselenggarakan secara daring oleh Jurusan Bahasa dan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (Unnes), Rabu-Kamis (21-22/10/2020). Konferensi menghadirkan pembicara Prof Gautam Kumar Jha (Jawaharlal Nehru University, India), Prof Sahid Teguh Widodo (Universitas Sebelas Maret), Prof George Quinn (Australian National University), dan Prof Teguh Supriyanto (Unnes).

Sahid Teguh Widodo menuturkan, dikotomi antara Barat dan Timur tidak bisa bisa dipertentangangkan dalam konteks keilmuan. Keduanya memiliki peran dan sumbangsihnya masing-masing. Sahid mencontohkan, pada awal abad ke-19, Javanologi (pengetahuan tentang kebudayaan Jawa), berpusat pada dua cabang. Pertama, keraton sebagai sumber produksi  bahasa, sastra dan budaya tradisional (dunia esoteris) dan kedua, Javanologi yang giat meneliti dan mengungkap pengetahuan asli orang Jawa (dunia akademis).

“Pada konteks metodologi dan penyusunan serta penyajian tulisan, pengaruh Barat memang sulit dihindari perannya,” ujarnya. Dalam penelitian, mahadata (big data) kini menjadi sumber data yang tidak ada habisnya. Teknologi digital menyimpan data aktivitas manusia yang bisa diolah sesuai dengan kebutuhan.

George Quinn dalam paparannya berbagi pengalaman soal penerjemahan bahasa Jawa ke dalam bahasa Inggris. Selama ini, ia menemui kendala dalam hal permasalahan kebahasaan dan kebudayaan, karena kedua bahasa tersebut mengusung konteks kebudayaannya masing-masing. Ia selama ini melakukan penerjemahan karya sastra Jawa ke dalam bahasa Inggris secara mandiri dan tanpa bantuan pendanaan dari pihak lain. “Jika ada sedikit honor dari penerbitan, mungkin tidak seberapa,” ujar George.

Menurutnya, hal itu menjadi upaya agar sasra Jawa lebih dikenal oleh pembaca dalam bahasa internasional. Ia mengatakan sastra Jawa memiliki kualitas yang sama dengan karya dalam bahasa lain. Akan tetapi, upaya penerjemahan perlu terus digalakkan.

Pada hari kedua, Dr Kundharu Saddhono dari (Universitas Sebelas Maret) dan Dr Prembayun Miji Lestari (Unnes) memberikan materi klinik manuskrip. Kedua pemateri memberikan rambu-rambu makalah yang layak diterima oleh jurnal dalam hal teknis penulisan, pencarian kebaruan (novelty), referensi, hingga proses untuk pengiriman (submit).

Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, Dr Sri Rejeki Urip menuturkan, konferensi internasional menjadi upaya lembaga untuk mewadahi berbagai pemikiran melalui hasil-hasil penelitian yang berkembang di berbagai penjuru dunia. Melalui langkah ini, Unnes berupaya untuk ambil bagian dalam diskursus keilmuan.